Langsung ke konten utama

Sang Alkemis: "Di mana hatimu berada, disitulah hartamu berada"



Buku berjudul "Sang Alkemis" mungkin tidak terdengar asing bagi sebagian orang, terutama bagi para kutu buku. Bagaimana tidak, buku karangan Paulo Coelho ini pertama kali diterbitkan pada 1988 di Brazil. Sejak saat itu, buku ini telah diterjemahkan ke dalam 55 bahasa, termasuk Bahasa Indonesia. Di Indonesia sendiri, buku ini diterbitkan oleh PT. Gramedia Pustaka Utama. Buku setebal 20 cm dan 216 halaman ini sudah memasuki cetakan kedua puluh empat per April 2019 di Indonesia saja.

Buku ini pertama kali di terbitkan di Brazil dengan judul "O Alquimista" dan hingga saat ini menjadi karya paling laku sang penulis dibanding karyanya yang lain.
Diterjemahkan oleh Tanti Lesmana, buku Sang Alkemis memiliki perbendaharaan kata yang cukup simpel, tidak rumit, cenderung mudah dipahami dan isi kontennya termasuk ringan. Biarpun begitu, makna dan pelajaran yang dapat dipetik dari buku ini sangat banyak.

Mari kita bahas buku ini dari awal...


   Tokoh utama dalam cerita ini bernama Santiago, bocah gembala yang berasal dari Andalusia, Spanyol. Sebenarnya, orangtuanya mengiginkan ia menjadi pastor, tapi Santiago memilih jalannya sendiri untuk menjadi gembala. Kedua orangtuanya yang hanya seorang petanipun akhirnya merestui keinginan putranya tersebut.


Pada intinya, buku ini menceritakan perjalanan si Anak menuju piramida-piramida Mesir.

SPOILER ALERTS,,
Buku ini memiliki kisah akhir yang bahagia.

   Tapi, bagi saya bukan tentang hasil akhirnya yang ingin ditonjolkan oleh sang penulis kepada para pembaca melaikan tentang prosesnya, perjalanan si Anak tersebut hingga ke titik akhir. Terlalu banyak hikmah yang bisa dipetik dari 216 halaman buku itu.
Salah satunya adalah kutipan pada halaman 25 edisi revisi (2013),
"Orang tampaknya selalu merasa lebih tau bagaimana orang lain seharusnya menjalani hidup, tapi mereka tidak tahu bagaimana seharusnya menjalani hidup sendiri"

Bagi saya, kutipan tersebut merupakan sebuah pukulan.
Seperti sudah lumrah di zaman sekarang bahwa orang lain sibuk mengurusi kehidupan orang lain, sibuk menjadi hakim bagi yang lain, sampai luput bahwa dia juga merupakan terdakwa dalam kisahnya sendiri.

   Selain itu, Paulo Coelho juga mengajak para pembaca untuk selalu mendengarkan kata hati kita sendiri. Ini digambarkan bagaimana Santiago selalu mendengarkan kata hatinya untuk mencapai tujuannya, atau ia sebut takdirnya. Tokoh pendukung seperti Raja Tua dan Sang Alkemis sendiri merupakan tokoh yang cukup memegang peran vital dalam pengambilan keputusan Santiago mencari harta karunnya.
Sang Raja tua, Melkisedek, pernah berkata dalam pertemuan keduanya dengan Santiago
"Di mana hatimu berada, disitu hartamu berada."
Selain itu, dia juga berkata bahwa hidup adalah pertanda-pertanda.
Ya, kiranya saban haripun kita semua mengalaminya.
Mulai dari pertanda baik hingga buruk, semua merupakan pertanda yang mengarah pada satu muara, karena pada dasarnya kehidupan ini sudah ditulis oleh Tangan yang sama.

   Kemahiran Paulo Coelho dalam menggarap cerita ini cukup patut diacungi jempol. Saya merasa terbawa suasa membaca buku ini. Dimulai dengan awal yang manis, "keberuntungan pemula" mereka menyebutnya, lalu melaju menuju tahap yang selanjutnya, lebih rumit, dan diakhiri dengan penutup yang tak terduga.

   Penggambaran suasana alam dan sekitar juga cukup mendukung tokoh dalam perjalanannya. Alam, yang biasanya menjadi benda mati dalam cerita cerita, dalam buku ini dijadikan ciptaan Tuhan yang juga dapat berbicara, meskipun dengan suatu cara khusus dan tidak semua dapat memraktekannya.

   Pada akhirnya, harta karun itu adalah perjalanan pencarian itu sendiri, perjalanan ketika dia mempelajari dan menemukan dirinya sendiri, kebijaksanaan yang dia peroleh dalam perjalanan itu. (Litz, Review dan Quote buku Sang Alkemis)

Satu lagi, sering kita lupa,
bahwa jauh kita berkelana
mencari tempat berlindung dari satu-ke yang lain
tapi kita tidak sadari
bahwa tempat paling berharga
tempat harta karun itu berada
justru sangat dekat dengan kita
justru tempat itulah yang tidak diduga
atau biasa kita sebut rumah.

--jatnika--

ikramsp.

Komentar