Selamat Ulang tahun (16/10) untuk saya, Adik sekaligus kembaran saya, dan teman sebangku saya sewaktu SMA, D.O. Sanjaya.
Semoga kita semua, dan para pembaca sekalian, senantiasa dalam lindungan Tuhan YME, dan mendapati hidup dalam jalan keberkahan dan kebahagiaan dunia dan akhirta, aamiin.
tapi bukan itu yang ingin bicarakan, bukan tentang hari ulang tahun berbahagia yang ingi saya ceritakan, melainkan tentang hari ulang tahun, yang telah berubah menjadi hari renungan.
Hari yang seharusnya menjadi sebuah 24 jam yang spesial, romantis, dan bahagia, menjadi hari yang gelisah, gundah, serta membuat jantung berdegup lemah.
24 jam yang kurasai ingin sekali cepat berlalu, 24 jam yang tak ingin sekali aku jumpai dalam 12 bulan kalender masehi. Namun pada akhirnya, aku akan bersamanya, bergandengan-berdampingan selama 24 jam kedepan, didampingi ucapan selamat dari teman-teman.
Terimakasih atas doa dan ucapan yang senantiasa kalian berikan,
Semoga, di atas sana Tuhan berbaik hati ingin mengabulkan.
Hari yang seharusnya menjadi momen berpelukan, menjadi momen menekuk lutut dan berbaring di kasur sembari menutup mata
menangis merintih
bukan kesakitan melainkan kesedihan
Bukan kebahagiaan tapi kegelisahan
Tuhan, Yang Maha Agung dengan segala kuasa-Nya,
tlah berbaik hati memberiku waktu begitu lama untuk beribadah sesuai perintah dan firman-Nya,
Namun malah kugunakan untuk bersenang senang dan berpersta ria.
Tuhan, Yang Maha Baik dengan segala yang tlah diberikan kepadaku,
Aku malah menyia-nyiakan dan menghambur-hamburkan semua pada banyak waktu
Tuhan, Yang Maha Nyata dalam wujud lain,
Malah terkadang aku ragukan keberadaannya karena lucunya kehidupan yang kujalani belakangan.
Keluarga, para sahabat dan teman-teman yang selalu ada di sisiku selalu setiap aku membutuhkan,
Yang slalu mendukung atas setiap keputusan yang kuambil,
Yang slalu mengangkat dagu dan bahuku dikala aku jatuh oleh batu yang menimpa tubuh,
Yang tak pernah abstain memompa semangatku yang kian digembosi oleh pedihnya kenyataan,
Aku berterimakasih pada kalian.
Aku berterimakasih pada Tuhan, yang mempertemukanku dengan kalian, semuanya.
Aku bersyukur dan bertasyakur atas apa yang aku miliki dan kehilangan yang tlah terjadi,
baik sengaja maupun tiada sengaja,
baik aku sadari maupun tidak,
Aku bersyukur.
Aku berterimaksih atas segalanya.
Mendapati semuanya selalu mengulurkan tangannya demi kemajuan jiwa dan ragaku,
Tak terasa air mata berlinang menyaksikan pertolongan teman dan Tuhan di depan mata.
Biarlah masa depan menjadi kotak misteri, yang kita bongkar dan kita rakit sendiri.
Untuk sekarang, mari kita syukuri atas apa yang telah terjadi
Dan merenung, serta mengevaluasi semua kesalahan kesalahan sendiri.
Jatnika.
Tabik,
Ikramsp.
Semoga kita semua, dan para pembaca sekalian, senantiasa dalam lindungan Tuhan YME, dan mendapati hidup dalam jalan keberkahan dan kebahagiaan dunia dan akhirta, aamiin.
tapi bukan itu yang ingin bicarakan, bukan tentang hari ulang tahun berbahagia yang ingi saya ceritakan, melainkan tentang hari ulang tahun, yang telah berubah menjadi hari renungan.
Hari yang seharusnya menjadi sebuah 24 jam yang spesial, romantis, dan bahagia, menjadi hari yang gelisah, gundah, serta membuat jantung berdegup lemah.
24 jam yang kurasai ingin sekali cepat berlalu, 24 jam yang tak ingin sekali aku jumpai dalam 12 bulan kalender masehi. Namun pada akhirnya, aku akan bersamanya, bergandengan-berdampingan selama 24 jam kedepan, didampingi ucapan selamat dari teman-teman.
Terimakasih atas doa dan ucapan yang senantiasa kalian berikan,
Semoga, di atas sana Tuhan berbaik hati ingin mengabulkan.
Hari yang seharusnya menjadi momen berpelukan, menjadi momen menekuk lutut dan berbaring di kasur sembari menutup mata
menangis merintih
bukan kesakitan melainkan kesedihan
Bukan kebahagiaan tapi kegelisahan
Tuhan, Yang Maha Agung dengan segala kuasa-Nya,
tlah berbaik hati memberiku waktu begitu lama untuk beribadah sesuai perintah dan firman-Nya,
Namun malah kugunakan untuk bersenang senang dan berpersta ria.
Tuhan, Yang Maha Baik dengan segala yang tlah diberikan kepadaku,
Aku malah menyia-nyiakan dan menghambur-hamburkan semua pada banyak waktu
Tuhan, Yang Maha Nyata dalam wujud lain,
Malah terkadang aku ragukan keberadaannya karena lucunya kehidupan yang kujalani belakangan.
Keluarga, para sahabat dan teman-teman yang selalu ada di sisiku selalu setiap aku membutuhkan,
Yang slalu mendukung atas setiap keputusan yang kuambil,
Yang slalu mengangkat dagu dan bahuku dikala aku jatuh oleh batu yang menimpa tubuh,
Yang tak pernah abstain memompa semangatku yang kian digembosi oleh pedihnya kenyataan,
Aku berterimakasih pada kalian.
Aku berterimakasih pada Tuhan, yang mempertemukanku dengan kalian, semuanya.
Aku bersyukur dan bertasyakur atas apa yang aku miliki dan kehilangan yang tlah terjadi,
baik sengaja maupun tiada sengaja,
baik aku sadari maupun tidak,
Aku bersyukur.
Aku berterimaksih atas segalanya.
Mendapati semuanya selalu mengulurkan tangannya demi kemajuan jiwa dan ragaku,
Tak terasa air mata berlinang menyaksikan pertolongan teman dan Tuhan di depan mata.
Biarlah masa depan menjadi kotak misteri, yang kita bongkar dan kita rakit sendiri.
Untuk sekarang, mari kita syukuri atas apa yang telah terjadi
Dan merenung, serta mengevaluasi semua kesalahan kesalahan sendiri.
Jatnika.
Tabik,
Ikramsp.
Komentar
Posting Komentar